Masyarakat awam, bahkan seorang dokter yang ahli pun kadang sulit
mendeteksi lebih awal diagnosis DBD. Gejala awal DBD tidak khas, hampir
semua infeksi akut pada awal penyakitnya menyerupai DBD. Gejala khas
seperti perdarahan pada kulit atau tanda perdarahan lainnya kadang
terjadi hanya di akhir periode penyakit. Tragisnya bila penyakit ini
terlambat didiagnosis, maka kondisi penderita sulit diselamatkan.
Perjalanan penyakitnya sangat cepat, dalam beberapa hari bahkan dalam
hitungan jam penderita bisa masuk dalam keadaan kritis. Untuk
menghindari keterlambatan diagnosis DBD, perlu diketahui deteksi dini
dan tanda bahaya DBD.
Penyakit DBD setiap saat terus mengancam masyarakat Indonesia. Penyakit
yang bisa menjadi sangat fatal ini dapat terjadi setiap saat tidak
melihat musim, meskipun kasusnya meningkat dalam bulan-bulan tertentu.
Dalam beberapa hari bahkan dalam hitungan jam penderita bisa masuk dalam
keadaan kritis. Kecemasan semakin meningkat, bila saat ini anaknya
mengalami panas badan apa pun penyebabnya. Pikiran pertama yang muncul
di kepala adalah apakah anak saya menderita demam DBD?
Mekanisme Terjadinya Penyakit
Virus dengue penyebab DBD termasuk famili Flaviviridae, yang berukuran
kecil sekali, yaitu 35-45 nm. Virus tersebut memasuki tubuh manusia
melalui gigitan nyamuk yang menembus kulit. Setelah itu disusul oleh
periode tenang selama kurang lebih empat hari, saat virus melakukan
replikasi secara cepat dalam tubuh manusia.
Apabila jumlah virus sudah cukup, virus akan memasuki sirkulasi darah
(viraemia). Pada saat ini manusia yang terinfeksi akan mengalami gejala
panas. Dengan adanya virus dengue dalam tubuh manusia, tubuh akan
memberi reaksi. Bentuk reaksi tubuh terhadap virus ini antara manusia
yang satu dan manusia yang lain dapat berbeda. Perbedaan reaksi ini akan
memanifestasikan perbedaan penampilan gejala klinis dan perjalanan
penyakit.
Pada prinsipnya, bentuk reaksi tubuh manusia terhadap keberadaan virus dengue melalui beberapa tahapan.
1. Bentuk reaksi pertama adalah terjadi netralisasi virus dan disusul
dengan mengendapkan bentuk netralisasi virus pada pembuluh darah kecil
di kulit berupa gejala ruam (rash).
2. Bentuk reaksi kedua terjadi gangguan fungsi pembekuan darah
sebagai akibat dari penurunan jumlah dan kualitas komponen-komponen beku
darah yang menimbulkan manifestasi perdarahan.
3. Bentuk reaksi ketiga terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang
mengakibatkan keluarnya komponen plasma (cairan) darah dari dalam
pembuluh darah menuju ke rongga perut berupa gejala ascites dan rongga
selaput paru berupa gejala efusi pleura.
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis infeksi dengue ditandai gejala-gejala klinik berupa
demam, nyeri pada seluruh tubuh, ruam dan perdarahan. Demam yang terjadi
pada infeksi virus dengue ini timbulnya mendadak, tinggi (dapat
mencapai 39-40 derajat Celcius) dan dapat disertai menggigil. Demam ini
hanya berlangsung sekitar lima hari. Pada saat demamnya berakhir, sering
kali dalam bentuk turun mendadak (lysis), dan disertai dengan
berkeringat banyak. Saat itu anak tampak agak loyo.
Kadang-kadang dikenal istilah demam biphasik, yaitu demam yang
berlangsung selama beberapa hari itu sempat turun di tengahnya menjadi
normal kemudian naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh
(gambaran kurva panas sebagai punggung unta).
Gejala panas pada penderita infeksi virus dengue akan segera disusul
dengan timbulnya keluhan nyeri pada seluruh tubuh. Pada umumnya yang
dikeluhkan adalah nyeri otot, nyeri sendi, nyeri punggung, dan nyeri
pada bola mata yang semakin meningkat apabila digerakkan. Karena adanya
gejala nyeri ini, di kalangan masyarakat awam ada istilah flu tulang.
Dengan sembuhnya penderita gejala-gejala nyeri pada seluruh tubuh ini
juga akan hilang.
Ruam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini dapat timbul pada saat
awal panas yang berupa flushing, yaitu berupa kemerahan pada daerah
muka, leher, dan dada. Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4 sakit
berupa bercak-bercak merah kecil seperti bercak pada penyakit campak.
Kadang-kadang ruam tersebut hanya timbul pada daerah tangan atau kaki
saja sehingga memberi bentuk spesifik seperti kaos tangan dan kaki. Yang
terakhir ini biasanya timbul setelah panas turun atau setelah hari
ke-5.
Pada infeksi virus dengue apalagi pada bentuk klinis DBD selalu disertai
dengan tanda perdarahan. Hanya saja tanda perdarahan ini tidak selalu
didapat secara spontan oleh penderita, bahkan pada sebagian besar
penderita tanda perdarahan ini muncul setelah dilakukan tes tourniquet.
Bentuk-bentuk perdarahan spontan yang dapat terjadi pada penderita demam
dengue dapat berupa perdarahan kecil-kecil di kulit (petechiae),
perdarahan agak besar di kulit (echimosis), perdarahan gusi, perdarahan
hidung dan kadang-kadang dapat terjadi perdarahan yang masif yang dapat
berakhir pada kematian.
Demam Berdarah Dengue versus Demam Dengue
Penyakit DBD adalah salah satu bentuk klinis dari penyakit akibat
infeksi dengan virus dengue pada manusia. Manifestasi klinis dari
infeksi virus dengue dapat berupa "Demam Dengue(DD)" atau "Demam
Berdarah Dengue (DBD)".
DD tidak membahayakan atau tidak mengancam jiwa seperti DBD. Biasanya
kasus seperti ini sering diistilahkan masyarakat awam sebagai gejala
demam berdarah. DD tidak akan berubah menjadi DBD. Jadi, pendapat yang
mengatakan bahwa bila penanganan tidak baik dan terlambat akan DD akan
menjadi DBD tidak benar.
Masyarakat awam sulit membedakan DD dan DBD, karena hanya diketahui
dokter berdasarkan pemeriksaan darah dan keadaan klinis penderita.
Secara klinis yang membedakan adalah pada DBD terjadi reaksi keluarnya
plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah keluar dan masuk ke
dalam rongga perut dan rongga selaput paru.
Fenomena ini apabila tidak segera ditanggulangi dapat mempengaruhi
manifestasi gejala perdarahan menjadi sangat masif. Dalam praktik
kedokteran sering kali membuat seorang dokter terpaksa memberikan
transfusi darah dalam jumlah cukup banyak.
Gejala klinis DBD dan DD hampir sama, yaitu panas tinggi, perdarahan,
trombosit menurun dan pemeriksaan serologi IgG atau IgM positif. Pada
DBD trombosit yang menurun sangat drastis hingga kurang dari 90.000,
perdarahan yang terjadi lebih berat dan dapat disertai sesak napas
karena adanya cairan di rongga paru (efusi pleura)
Deteksi Dini Penyakit DBD
Deteksi dini DBD perlu diketahui karena bila terjadi keterlambatan
penyakit ini sangat fatal. Gejala awal penyakit ini hampir sama dengan
penyakit infeksi virus lainnya. Tetapi ada beberapa karakteristik klinis
yang bisa diamati untuk mencurigai penyakit DBD.
Beberapa gejala yang diwaspadai adalah bila panas yang timbulnya
mendadak, langsung tinggi di atas 39 derajat C. Begitu mendadaknya,
sering kali dalam praktik sehari-hari kita mendengar cerita ibu bahwa
pada saat melepas putranya berangkat sekolah dalam keadaan sehat
walafiat, tetapi pada saat pulang putranya sudah mengeluh panas dan
ternyata panasnya langsung tinggi.
Pada saat anak mulai panas ini biasanya sudah tidak mau bermain.
Biasanya hari ke tiga panas sedikit menurun namun hari ke IV dan ke V
meningkat lagi akhirnya hari ke VI panas tidak meningkat lagi. Selain
itu bila panas tidak disertai batuk, pilek dan sakit tenggorokan dan di
lingkungan rumah tidak ada yang menderita penyakit flu kita harus
mewaspadai.
Harus waspada juga bila dalam beberapa waktu terakhir di sekitar rumah
ada yang mengalami penyakit DBD. Atau, dalam waktu dekat sebelumnya
pernah ada fogging (pengasapan), karena kalau ada fogging biasanya ada
penderita DBD di sekitarnya.
Gejala khas yang terjadi biasanya anak tampak lemas, loyo, tidak mau
bermain di bawah, minta gendong dan tidur terus menerus sepanjang hari.
Bila lemasnya hanya saat panas tinggi, tetapi begitu panas turun anak
aktif lagi biasanya tidak harus dikawatirkan dan merupakan hal yang
wajar.
Tanda Bahaya
Tanda bahaya yang harus diketahui pada penyakit DBD adalah tanda
perdarahan kulit (bintik merah), hidung, gusi atau berak darah warna
kehitaman dan berbau. Tanda bahaya lainnya adalah bila panas yang
berangsur dingin, tetapi anak tampak loyo dan pada perabaan dirasakan
ujung-ujung tangan atau kaki dingin. Gejala yang dingin ini sering
dianggap anak telah sembuh, padahal merupakan tanda bahaya. Kondisi
tersebut mengakibatkan orangtua tidak segera membawa putra mereka ke
fasilitas kesehatan terdekat.
Tanda bahaya lain yang menyertai adalah penampilan anak tampak sangat
gelisah, kesadarannya menurun, kejang dan napas sesak. Pada keadaan
tersebut penderita harus segera dibawa ke dokter, bila terlambat akan
menimbulkan komplikasi yang berbahaya seperti syok, perdarahan kepala,
perdarahan hebat di seluruh tubuh (DIC) atau gangguan fungsi otot
jantung. Dalam keadaan ini penderita biasanya sulit untuk diselamatkan.
Seringkali orang tua disalahkan oleh dokter karena keterlambatan membawa
ke dokter. Orangtua sering menolak pendapat ini karena sejak hari
pertama dan ke dua panas anak selalu kontrol ke dokter. Tetapi panas
hari ke I � II tidak bisa terdeteksi gejala demam berdarah dan tidak ada
penanganan secara khusus.
Manifestasi berbahaya biasanya justru timbul pada panas hari ke III � V.
Keterlambatan penanganan yang terjadi justru saat periode tersebut.
Bila terjadi maka jangan ditunda saat itu juga harus segera ke dokter
atau ke rumah sakit terdekat. Jadi monitor tanda bahaya itu justru harus
dilakukan saat panas hari ke III � V.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis DBD adalah pemeriksaan darah
atau sering diistilahkan pemeriksaan darah lengkap. Gambaran hasil
laboratorium yang khas adalah terjadi peningkatan kadar hemoglobin (Hb)
dan peningkatan hematokrit (HCT) disertai penurunan trombosit kurang
dari 150.000 Perubahan tersebut biasanya terjadi pada hari ke-3 hingga
ke-5 panas.
Pemeriksaan darah pada hari pertama atau kedua panas tidak bermanfaat
dan malah menyesatkan karena hasilnya masih dalam normal, tetapi belum
menyingkirkan penyakit DBD. Dalam perjalanannya trombosit akan terus
menurun pada hari ke-3, ke-4, dan hari ke-5, sementara pada hari ke-6
dan selanjutnya akan meningkat terus kembali ke nilai normal.
Peningkatan jumlah trombosit setelah hari ke-6 inilah mungkin yang
sering dianggap karena pengaruh pemberian jambu biji. Biasanya setelah
hari ke-6 jumlah trombosit di atas 50.000, bila tidak disertai
komplikasi penderita diperbolehkan pulang.
Pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan adalah pemeriksaan
serologi imunoglobulin G (IgG) dan imunoglobulin M (IgM). Pemeriksaan
ini selain tidak spesifik tetapi juga harganya relatif mahal. Pada
keadaan manifestasi klinis dan hasil laboratorium sudah jelas
pemeriksaan ini sebenarnya tidak perlu dilakukan. Pada kasus yang tidak
jelas mungkin pemeriksaan ini sering membantu menunjang menegakkan
diagnosis DBD.
Hal lain yang sering dijumpai penderita DBD didiagnosis sebagai sebagai
penyakit tifus. Pada penderita DBD sering ditemukan juga peningkatan
hasil Widal. Pemeriksaan Widal adalah identifikasi antibodi tubuh
terhadap penyakit demam tiphoid (tifus). Kejadian seperti inilah yang
menimbulkan kerancuan diagnosis DBD.
Padahal pada penyakit demam tiphoid pada minggu awal panas biasanya
malah tidak terdeteksi peningkatan titer Widal tersebut. Bila hasil
pemeriksaan widal meningkat tinggi pada awal minggu pertama, tidak harus
dicurigai sebagai penyakit tifus. Sebaiknya, pemeriksaan Widal
dilakukan menjelang akhir minggu pertama panas atau awal minggu ke dua
panas.
Prinsip Pengobatan DBD
Secara medis sebenarnya tidak ada pengobatan secara khusus pada
penderita DBD. Penyakit ini adalah self limiting disease atau penyakit
yang dapat sembuh sendiri. Prinsip pengobatan secara umum adalah
pemberian cairan berupa elektrolit (khususnya natrium) dan glukosa.
Pemberian minum yang mengandung elektrolit dan glukosa, seperti air buah
atau minuman lain yang manis, dapat membantu mengatasi kekurangan
cairan pada penderita DBD. Sampai pada saat ini belum ada penelitian
secara klinis yang membuktikan bahwa pemberian jambu biji kepada
penderita DBD dapat meningkatkan jumlah trombosit dalam darah.
Bagaimana sih mendeteksi dini DBD
Posted by Kelurahan Jungcangcang Pamekasan on Jumat, 19 Desember 2014. Label:
Berita,
Galeri,
Kegiatan
Related News

Tidak ada komentar: